Hai teman-teman, lewat note ini saya ingin berbagi cerita tentang hal-hal yang saya alami selama berada di negeri Kanguru, hal-hal unik yang saya temui di sini yang mungkin jarang ditemui di tanah air. Hari ini saya mulai dengan cerita tentang Daily Life alias kehidupan sehari-hari. Daripada kelamaan, langsung dimulai aja ya :p
Saya tinggal di Bundoora, suburb atau bagian pinggir kota yang letaknya sekitar 15 km dari pusat kota Melbourne. Saya dan keluarga saya menempati salah satu kamar di sebuah rumah yang lokasinya cukup dekat dengan komplek kampus La Trobe University, Melbourne.
La Trobe University, Melbourne
Perbedaan waktu di sini (Melbourne dan sekitarnya) dengan di Indonesia sekitar 3 jam. Saat musim dingin, Matahari terbit sekitar pukul 7.30 pagi dan terbenam sekitar pukul 5.30 sore Untuk keperluan sehari-hari, saya dan keluarga saya biasa belanja di supermarket yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah dengan berjalan kaki atau ke pasar tradisional yang letaknya lebih jauh. Untuk minum, saya tidak perlu merebus air, karena air keran disini sudah layak minum, kecuali air dari keran kamar mandi. Hanya air yang dingin saja yang layak untuk diminum, karena bila ingin air panas maka air keran harus dialirkan terlebih dahulu ke mesin pemanas, yang bagian dalamnya belum tentu bersih.
Rumah-rumah di kawasan tempat tinggal saya sebagian besar terbuat dari batu bata susun atau kayu, memiliki pagar yang pendek atau bahkan tidak berpagar sama sekali dan dilengkapi dengan kotak pos bertuliskan "no junk mail, posted letters only" di bawahnya. Yang dimaksud dengan “junk mail” adalah katalog produk maupun tabloid gratis yang sering dibagikan ke rumah-rumah penduduk. Katalog dan tabloid gratis tersebut disebut junk atau sampah karena tidak semua orang membutuhkan katalog maupun tabloid tersebut, sehingga seringkali orang langsung membuang katalog dan tabloid tersebut tanpa membacanya. Walaupun sudah diberi tulisan seperti itu, tetap saja ada orang yang nekat memasukkan "junk mail" ke dalamnya.
Tetangga di sekitar rumah tempat saya tinggal sebagian besar terdiri atas pasangan lanjut usia. Walaupun sudah lanjut usia, mereka tetap segar, gesit dan mandiri. Mereka terbiasa melakukan segala hal sendiri, seperti menyetir mobil sendiri, mengecat rumah sendiri atau belanja tanpa ditemani. Kadang-kadang saya tidak tega dan bertanya-tanya, ke mana anak-anak mereka. Kenapa tidak ada satupun dari anak-anak mereka yang dengan sukarela tinggal bersama mereka atau setidaknya menggaji asisten rumah tangga untuk membantu mengurus mereka. Tapi kadang justru para manula itu yang merasa tidak membutuhkan bantuan. Pernah saya mencoba menawarkan diri untuk membantu membawakan belanjaan seorang nenek. Bukannya mengiyakan, ia malah menolak secara halus dan minta saya untuk tidak mengkhawatirkannya. Benar-benar mengagumkan..
Hal-hal mengagumkan lainnya dari penduduk di sini adalah kebiasaan mereka dalam menghemat listrik. Waktu malam, mereka jarang menyalakan lampu, bahkan lampu teras sekalipun. Mereka hanya menyalakan lampu di satu-dua ruangan saja yang memang sedang digunakan untuk beraktifitas. Sejauh yang saya amati, hampir semua rumah di sekitar kawasan tempat tinggal saya menjadi gelap bila malam hari. Saat pertama kali datang ke sini, saya kaget karena suasananya mirip kota hantu. Benar-benar gelap gulita dan suasananya pun terasa mencekam. Tapi sekarang Alhamdulillah saya sudah mulai terbiasa. Bahkan saat ini saya mulai ketularan kebiasaan mereka dengan menyalakan lampu seperlunya saja saat malam hari.
Kebiasaan mereka lainnya yang patut diacungi jempol adalah terbiasa membawa tas belanja dari rumah ketika belanja di supermarket. Selain untuk meminimalkan penggunaan kantung plastik, hal ini juga karena kantung plastik yang disediakan oleh tiap supermarket biasanya sangat tipis, sehingga dikhawatirkan tidak akan bisa digunakan untuk membawa barang-barang belanjaan yang berat.
Bicara soal sarana transportasi, sarana transportasi umum yang tersedia di sini ada tiga macam: Bus, Train dan Tram. Kendaraan yang paling sering saya gunakan adalah Tram, karena murah, rutenya tidak rumit, relatif lebih aman, lebih on time dan dapat menjangkau hampir seluruh wilayah di kota Melbourne dan sekitarnya. Sepintas bentuk fisik Tram mirip dengan KRL-KRL yang ada di Indonesia. Bedanya, Tram hanya terdiri dari dua gerbong dengan kapasitas 70 orang tiap gerbong. Tram tidak dapat berhenti di sembarang tempat. Mereka hanya diperbolehkan untuk berhenti di halte Tram, atau saya menyebutnya stop-an. Tiap stop-an berjarak sekitar 200 meter, dengan interval waktu tiap Tram sekitar 6-12 menit.
Untuk dapat menggunakan sarana transportasi umum, kita harus membeli kartu perjalanan yang dapat dibeli di kios-kios penjualan tertentu. Ada dua macam kartu yang digunakan. Kartu yang pertama adalah Metlink card, yang cara penggunaannya dimasukkan ke dalam mesin validasi. Kartu ini dapat dibeli di kios dengan harga sekitar 30 AUD untuk 10 kali validasi. Kartu ini tidak dapat di-top up, jadi kalau sudah habis 10 kali validasi harus membeli kartu yang baru.
Kartu kedua yang muncul belakangan dan saat ini sedang gencar disosialisasikan oleh pemerintah Australia adalah Myki, yang cara penggunaannya ditempelkan ke mesin untuk di-scan. Setelah di-scan, "pulsa" di dalam kartu akan secara otomatis berkurang. Kartu ini dapat di-top up dengan nominal tertentu. Kalau sudah di-top up, "pulsa" akan bertambah dan kartu dapat kembali digunakan.
Kebiasaan mereka lainnya yang patut diacungi jempol adalah terbiasa membawa tas belanja dari rumah ketika belanja di supermarket. Selain untuk meminimalkan penggunaan kantung plastik, hal ini juga karena kantung plastik yang disediakan oleh tiap supermarket biasanya sangat tipis, sehingga dikhawatirkan tidak akan bisa digunakan untuk membawa barang-barang belanjaan yang berat.
Bicara soal sarana transportasi, sarana transportasi umum yang tersedia di sini ada tiga macam: Bus, Train dan Tram. Kendaraan yang paling sering saya gunakan adalah Tram, karena murah, rutenya tidak rumit, relatif lebih aman, lebih on time dan dapat menjangkau hampir seluruh wilayah di kota Melbourne dan sekitarnya. Sepintas bentuk fisik Tram mirip dengan KRL-KRL yang ada di Indonesia. Bedanya, Tram hanya terdiri dari dua gerbong dengan kapasitas 70 orang tiap gerbong. Tram tidak dapat berhenti di sembarang tempat. Mereka hanya diperbolehkan untuk berhenti di halte Tram, atau saya menyebutnya stop-an. Tiap stop-an berjarak sekitar 200 meter, dengan interval waktu tiap Tram sekitar 6-12 menit.
Untuk dapat menggunakan sarana transportasi umum, kita harus membeli kartu perjalanan yang dapat dibeli di kios-kios penjualan tertentu. Ada dua macam kartu yang digunakan. Kartu yang pertama adalah Metlink card, yang cara penggunaannya dimasukkan ke dalam mesin validasi. Kartu ini dapat dibeli di kios dengan harga sekitar 30 AUD untuk 10 kali validasi. Kartu ini tidak dapat di-top up, jadi kalau sudah habis 10 kali validasi harus membeli kartu yang baru.
Kartu kedua yang muncul belakangan dan saat ini sedang gencar disosialisasikan oleh pemerintah Australia adalah Myki, yang cara penggunaannya ditempelkan ke mesin untuk di-scan. Setelah di-scan, "pulsa" di dalam kartu akan secara otomatis berkurang. Kartu ini dapat di-top up dengan nominal tertentu. Kalau sudah di-top up, "pulsa" akan bertambah dan kartu dapat kembali digunakan.
Metlink Card
Bicara soal hal unik yang jarang ditemui di Indonesia, ada satu hal unik yang saya temui disini, yaitu adanya toko-toko dengan label "gudang produk berbahan kimia". Toko dengan label ini menjual segala macam produk berbahan kimia, mulai dari vitamin dan obat-obatan yang tidak lazim ditemukan di apotek seperti obat untuk membuat kuku jari nampak sehat dan berkilau, obat untuk mood yang sering berubah-ubah hingga produk-produk kosmetik dan perlengkapan mandi. Sepintas mirip dengan toko obat yang biasa kita temui di pusat perbelanjaan maupun supermarket besar di Indonesia, tapi dalam versi yang lebih berantakan, penataan yang ala kadarnya dan harga yang lebih murah, bahkan bila dibandingkan dengan harga di Indonesia. Mungkin karena itulah mereka menyebut diri mereka gudang, bukan toko.


Nice....
BalasHapusHow does it feel to be abroad?
I'm often wondering about being in an aeroplane and travelling around a completely different country than mine.
Would you take me there one day? Hihihihi....
oooh.. Australia negeri wool, katanya-katanya. negara tujuan selanjutnya mana? Kalo Swiss, ajak2 yaa.. :D
BalasHapusWah, ajak-ajak donk!! Masa sich,Miss.Vely gak ajak2 aku ke Melbourne.... hehehehe!!
BalasHapusShania ngarep banget yah, wkwkwk JK
BalasHapus